Foto Pertunjukan Dunia

Aktor Magdalena Uski memerankan tokoh perempuan marginal dalam lakon Dunia karya/sutradara Tintun

dunia-1.jpg

 

Copyright-2006-HP Foto dok.HITAM-PUTIH

4 Komentar

Filed under Foto-Foto HITAM-PUTIH

Pertunjukan AKSIOMA

Aktor Joe Mirsal dalam pertunjukan Aksioma di Jakarta, sutradara Yusril.

aksioma11.jpg

Copyright-2006-HP Foto dok.HITAM-PUTIH

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Garapan HITAM-PUTIH

TEATER

No

JUDUL

KARYA

SUTRADARA

TEMPAT

1

Eksplorasi Amuk

Sutardji

Yusril

  Padang

2

Orang-orang bawah Tanah

Wisran Hadi

Yusril

1. RRI Padang

2. Taman Budaya Bengku

3. Taman Budaya Pekanbaru

4. Taman Budaya Jambi

5. Taman Budaya Sumatera Barat

6. Jambore Teater Nasional jawa Timur

2

Ring

Wisran Hadi

Yusril

1. INS kayutanam

2. Dang Merdu Pekanbaru

3

Perguruan

Wisran Hadi

Yusril

Taman Ismail (TIM)

Jakarta

4

Hamba-Hamba 1

Prell.T

Yusril

1. INS kayutanam

2. Taman Budaya Pekanbaru

3. STSI Padangpanjang

5

Wanted

Yusril

Yusril

INS kayutanam

6

Gerak Musik Alami

Bery Benhard

Yusril

Bery Benhard

Yusril

Taman Budaya Sumatera Barat

7

Ekplorasi Sembilu Darah

Papa Rusli

Yusril

Fa Fak. Sastra Bung Hatta – Padang

8

Interne

Yusril

Yusril

    INS Kayutanam

9

RAKER

Yusril

Yusril

1.   INS kayutanam

2.   Taman Budaya Sumabar

10

Menunggu

Yusril

Yusril

1.   INS Kayutanam

2.   Taman Budaya Pekan Baru

3.   Taman Budaya Sumatera Barat

4.   Taman Budaya Jambi

5.   Teater Utan Kayu Jakarta

6.   Institut Kesenian Jakarta

11

Diujung Tanduk

Deni Marjunis

Yusril

1.   STSI Padangpanjang

2.   SMKI Padang

3.   Fak. Sastra UNAND

13

Kolaborasi Cindua Mato

Yusril

Susasrita Lora Vianti

Yusril

Jogyakarta

14

Kronis

Yusril

Yusril

Taman Budaya Bengkulu

15

Kamar

Kolaborasi

Yusril

1.   Taman Budaya Padang

2.   Taman Budaya Jambi

16

Embrio

Yusril

Yusril

1.   STSI Padangpanjang

2.   Bung Hatta Padang

17

Topeng

Yusril

Yusril

Taman Budaya Bengkulu

18

Performing Art Indonesia Darahku Tumpah

Yusril

Yusril

Payakumbuh

19

Welcome To Milenium

Yusril

Yusril

STSI Padangpanjang

20

Pintu

Yusril

Yusril

Taman Budaya Sumatera Barat

21

Kolaborasi Selamat Datang

Yusril

Agus Joly

Yusril

Agus Joly

Taman Ismail Marzuki Jakarta

22

Aksioma

Topan S Candra

Yusril

1.         Taman Ismail Marzuki Jakarta

2.         Bandung

3.         Cirebon

4.         Tegal

5.         Purwokerto

6.         Semarang

7.         Kudus

8.         Magelang

9.         Jogyakarta

10.      Solo

11.      Surabaya

12.      Malang

13.      Pamuteran

14.      Singaraja

15.      Tambanan

16.      Nusa dua Bali

 

23

Pengantin darah

Slamed widodo

Yusril

1.   Kebun Nanas Jakarta

2.   Bentara Budaya Jakarta

24

Tak Ada Minggu Sampai Sabtu, Hanya Siang Dan Malam

Rozzaky

Yusril

1.   STSI Padangpanjang

2.   Fak. Sastra Unand

3.   INTRO Payakumbuh

4.   Rawamangun Jakarta

5.   Taman Buadaya Sumatera Barat

25

Komplikasi

Yusril

Kurniaisih Zaitun

Unand Padang

27

Malam Terakhir

Yokio Mishima

Kurniaisih Zaitun

STSI Padangpanjang

28

The Song Of The Death

Yusril

Kurniaisih Zaitun

STSI Padangpanjang

29

Cleopatra

Shakespiere

Kurniaisih Zaitun

STSI Padangpanjang

30

Kura Kura Bekicot

Eugene Ionesco

Kurniaisih Zaitun

STSI Padangpanjang

31

Cermin

N. Riantiarno

Kurniaisih Zaitun

Taman Budaya Padang

32

Ditunggu Dogot

Sapardi Djoko Damono

Kurniaisih Zaitun

1.   STSI Padangpanjang

2.   Taman Budaya Padang

3.   Bandar Serai Pekanbaru

33

 Eforia Malin

Afrizal Harun

 

Afrizal Harun

STSI Padangpanjang           

34

Wek-wek

Anton.P.

Chekov

Afrizal Harun

STSI Padangpanjang           

35

Macbett

Eugene Ionesco

Afrizal Harun

STSI Padangpanjang           

36

Hanya Satu Kali

Jhon Galswhorti

Afrizal Harun

STSI Padangpanjang

37

Kotaku Rumahku

Paul Maar

Afrizal Harun

STSI Padangpanjang

38

Dunia dalam Mesin Jahit

Afrizal Harun

Afrizal harun

Rawa Mangun

Jakarta Selatan

FILM

1

Sedikit Sekali waktu Untuk Cinta

(Film Pendek)

Yusril

Yusril

2

Wartel (Film Pendek)

Iyut Fitra

Yusril

3

Black File (Film Tari)

Yusril

Yusril

4

Musim Kematian Bunga (Film Puisi)

Iyut Fitra

Yusril

5

Bulan Dilangit Jam gadang

Edi Suisno

Yusril

6

Si SaP

Yusril

Yusril

Kegiatan film workshop dan pemutaran

2005. Pemutaran Film bermutu JIFFEST

2006. Trafeling Pemutaran FILM JifFes dan In doc

2006. Pendek dan Bagus Pemutan film Goothe Institut

2006. 8th Jiffest Script Development Workshop 2006

2006. Workshop scenario Film Direktorat Fil m Indonesia

Tinggalkan komentar

Filed under KARYA-KARYA

Belakang HITAM-PUTIH

YUSRIL, adalah warga negara Indonesia asli (asal Sumatera Barat). Pernah kuliah di Sastra Unand, di STSI Surakarta. Pernah menulis puisi, cerpen, artikel teater, naskah drama, scenario. Pernah memberi workshop, pengamat teater, juri teater, juri puisi. dosen tetap jurusan teater STSI Padangpanjang. Dosen tidak tetap jurusan televisi STSI Padangpanjang. Pernah jadi sutradara teater, scenografi tari kontemporer, sutradara film indipendent. Pernah jadi pembicara diskusi teater. Sering nonton teater, tari, musik dan film. Tidak suka lawak. Tapi terpaksa nonton lawak. Tidak suka dangdut tapi sering terpaksa dengar musik dangdut. Pernah bergabung dengan bumi teater, komunitas seni INTRO, RE:LL, teater SEMA, Teater Langkah. Pernah jadi panitia berbagai event seni, menjadi anggota dewan kesenian sumatera barat, dewan kesenian luhak lima puluah. Pertnah mendirikan kelompok teater Plus INS Kayutanam, teater kamar. Banyak yang pernah dilakukan, termasuk membaca puisi, mulai dipasar, di jalan raya, di terminal, di gedung pertunjukan dan di taman kota. Sekarang tinggal di kota Padangpanjang membina komunitas yang sangat ia cintai, komunitas seni HITAM-PUTIH. Sering di kritik, dipergunjingkan dan bahkan dimusuhi diam-diam. Tapi tetap hidup. Sekarang lagi mempersiapkan sebuah karya teater berjudul tangga. Satu lagi, pernah ikut pelatihan managemen seni tapi tetap susah cari sponsor.

 

KURNIASIH ZAITUN, di samping menjadi sutrdara teater tetapi juga banyak terlibat dalam hal memenej produksi komunitas seni HITAM-PUTIH. Sering ikut pelatihan, mulai menulis script sampai manejemen. Sering juga menjadi ketua panitia pemutaran film. Sekarang lagi kuliah S2 jurusan teater. Jadi MC juga sering.

 

AFRIZAL HARUN, dia dilahirkan di Tanjung Medan  sebuah daerah di Pesisir Selatan. Afrizal Harun yang panggilan akrabnya Babab ini menamatkan pendidikan S1 di STSI Padangpanjang dengan minat utama sebagai sutradara, di samping itu juga paling top sebagai aktor serius maupun komedi, telah banyak naskah yang telah dimainkan. sebelum menjadi mahasiswa STSI Padangpanjang, ia menamatkan sekolahnya di SMU Plus INS Kayutanam. Kini jadi dosen teater STSI Padangpanjang, dan juga sebagai sekretaris dalam struktur kepengurusan komunitas Hitam-Putih Padangpanjang. Selama menjadi mahasiswa STSI Padangpanjang, ia pernah menjabat sebagai ketua HMJ jurusan teater dan ketua UKM penerbitan majalah kampus “laga-laga” Prestasi-prestasi yang pernah diraihnya antara lain :

  • Juara II Festival Musik Jalanan di Padang
  • Juara I lomba baca puisi Islami se Sumatara Barat di STSI Padangpanjang
  • Finalis lomba baca puisi di Gedung Pertemuan Balai Kota Bung Hatta Bukittinggi
  • Juara II Festival Musik Jalanan di M.s\Syafe’i Padangpanjang

1 Komentar

Filed under PROFIL

Catatan Pertunjukan Teater Komunitas Hitam-Putih Padangpanjang

Oleh Nasrul Azwar                                                             

“Tugas kita ditunggu, tugas Dogot menunggu. Itu saja. Perut itu kan urusanmu.”
“Apa urusanmu cuma otak, tak pakai perut? Apa Dogot, saudaramu itu tak punya perut tapi punya otak? Begitu? Kau saudaranya ‘kan? Seperti halnya tukang tiup peluit, tukang jual tiket dan tukang gali selokan. Dogot itu saudaramu ‘kan? Kalau bukan mengapa kau tutup-tutupi?…”

Sepenggal teks  di atas tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang ganjil. Sama halnya dengan teks tulisan ini. Akan tetapi, ia terasa sangat berbeda ketika roh lakon ditiupkan ke dalamnya. Ia berdaging dan bernyawa. Demikianlah teater. Demikianlah peristiwa teater dibangun dari teks yang “mati” menjadi “hidup” di atas panggung. Dan inilah yang membedakan secara signifikans antara teks sastra dangan teks teater.

Pilihan teks sastra berupa cerpen yang diproyeksikan menjadi teks teater yang dilakukan komunitas seni Hitam Putih Padangpanjang dengan sutradara Kurniasih Zaitun, memang memperlihatkan semacam antiesensialisme. “Ditunggu Dogot” semula berupa cerpen karya Sapardi Djoko Damono, yang pada 1 Juli 2006 di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatra Barat diaudivisualkan seperti mempertegas ruang relasi antarsutradara, pengarang, pelakon, dan penonton. Pada malam itu berlangsung apa yang disebut diaspora dan brikolase teater. “Ditunggu Dogot” dalam tataran yang positif berhasil penata ulang dan memadukan objek-objek penanda yang sebelumnya—taruhlah tidak saling terkait—untuk menghasilkan makna-makna baru dalam konteks yang baru.

Intertekstualitas dengan pengertian akumulasi dan penciptaan makna lintas teks di mana semua makna saling tergantung pada makna yang lain. Pengutipan secara sadar suatu teks pada teks lain sebagai ekspresi dan kesadaran kutural yang makin besar. Paling tidak, teks sama yang terkoneksi dalam satu kerangka tafsir yang memberi dan membuka luas demokratisasi dalam menjelajah teks. Posisi sutradara dengan segenap pendukungnya telah berhasil mengompilasikan berbagai elemen yang pantas dihadirkan di atas pentas.  Maka, dengan demikian, pertunjukan teater “Ditunggu Dogot” tidak menjelma seperti kutbah yang menyebalkan, yang kerap dilakukan oleh banyak kelompok teater di Kota Padang selama ini.

Proses Sungguh-sungguh

Cerpen “Ditunggu Dogot” karya Sapardi Djoko Damono yang diadaptasi menjadi karya teater di atas panggung, memang tidak serta merta melepaskan dirinya demikian saja dengan teks yang telah terbentuk dalam ingatan publik. Paling tidak, referensi pertama muncul dari memori publik adalah “Menunggu Godot” karya Samuel Becket. Relasi teks yang terbangun dengan sendirinya, selanjutnya menemukan “pembenaran” saat persoalan absurdisme kehidupan manusia menjadi perkara penting dalam teks pertunjukan “Ditunggu Dogot”.

Pada batas ini, barangkali apa yang disebut dengan intertekstualitas menemukan legitimasinya. Sapardi Djoko Damono sebagai pengarang “Ditunggu Dogot” dan Kurniasih Zaitun sebagai sutradara menempatkan kode kuktural sebagai pintu masuk  demi menjelajah ruang-ruang, konteks, dan narasi kanaifan manusia itu sendiri.

Sudah menjadi catatan tersendiri, bahwa karya Samuel Beckett menginspirasi setidaknya 100 buku dan ribuan karya di muka bumi ini, serta karya-karyanya menjadi bahan studi yang tak habis-habisnya. Bukan hanya “Manunggu Godot”, juga karya lainnya seperti “Endgame” menjadi master drama Becket. Memang, yang terpilih sebagai karya pemenang Nobel Sastra adalah “Menunggu Godot” pada tahun 1969.

Sejauh ini, akhirnya memang untuk mementaskan sebuah lakon, berarti menafsir pula naskah tersebut. Tafsir yang dilakukan Kurniasih Zaitun terhadap “Ditunggu Dogot” pantas diapresiasi positif. Hal demikian terlihat dari gaya dan titik-titik kelekatan berupa investasi emosional yang bersifat kontingen (kesementaraan), dan dituangkan dalam fantasi yang secara parsial menyatukan berbagai wacana dan kekuatan psikis lakon. Pelakon yang disebut “Laki-laki” dan “Perempuan” merupakan identitas kesementaraan manusia yang mencoba mengonstruksi narasi-narasi diri yang kian keropos kepercayaan subjektivitasnya. Dua identitas ini menjadi fokus cerita untuk membangun konflik, dan juga efek visual.

Jika pada naskah “Menunggu   Godot” dialog lakon menjadi perdebatan filosofis yang panjang, dan jika tak sabar memang sangat melelahkan, maka pada naskah “Ditunggu Dogot” lebih menekankan pada aktualisasai kondisi kekinian, dan bukan perdebatan filosofis. Maka, konsekuensi garapan dan kehadiran properti di atas panggung menjadi sangat penting.

Cerita “Ditunggu Dogot” diawali seorang lelaki dan perempuan memacu sepedanya untuk menemui Dogot. Karena kedua mereka sedang ditunggu Dogot. Dogot memberi syarat bahwa kepada kedua orang ini untuk tidak boleh terlambat dan juga tak boleh terlalu cepat, harus tepat waktu. Persoalan muncul saat mengayuh sepeda itu: jika terlalu kencang atau lambat menjadi perkara ditujuan. Sesuai perjanjian, mereka harus tepat waktu. Pertengkaran tak bisa dihindarkan, dan juga gugatan menyangkut identitas Dogot yang sedang menunggu. Tapi di dalam pertengkaran itu juga muncul kemesraan dan rasa romantis kedua anak manusia ini. Naluri paling purba bagi manusia lain jenis pun muncul, yaitu seks. Dan apa dan siapa sesungguhnya Dogot yang sedang menunggu mereka, akhirnya memang menjadi identitas jamak dan juga identitas kultural. Tapi manusia sangat mendambakan identitas seperti Dogot.

Tokoh “Perempuan” yang diperankan Ika Trisnawati malam itu memang menghidupkan imaji tentang “perempuan” yang sesungguhnya. Akting yang tidak nyinyir dan terkesan natural mampu mengimbangi “Laki-laki” yang dilakonkan Ashadi. Dari kedua lakon inilah cerita dieksplorasi, didedahkan, lalu dibangun dengan stabilisasi permainan yang tetap berada dalam frame yang tidak terlihat adanya pengulangan-pengulangan seperti banyak dilakukan kelompok-kelompok teater di daerah ini. Sehingga, tontonan jadi menarik, komunikatif, efektif, dan mencengangkan. Estimasi pertunjukan tak lebih 40 menit membuat penonton terpesona di kursinya. Bagi saya, mengatur tempo permainan, menggunakan seefesien mungkin waktu, dan juga kemampuan memungsionalisasikan properti, adalah sesuatu keniscayaan bagi pertunjukan teater. Dan itu telah dilakukan oleh komunitas seni Hitam-Putih Padangpanjang.

Selain itu, satu hal yang membuat pertunjukan “Ditunggu Dogot” agak beda dengan pertunjukan teater lainnya di Sumatra Barat adalah telah muncul kesadaran tentang fungsi dan manfaat teknologi serta kemampuan menyinergikannya dengan kebutuhan pertunjukan. Kahadiran layar di dinding pentas dengan menayangkan gambar-gambar yang terkoneksi dengan aktivitas dan peristiwa yang dibangun kedua aktor itu, jelas mempertegas efek-efek yang dicapai. Juga, menghadirkan panggung yang bergerak, terasa memperlengkap  keutuhan pertunjukan itu.

Capaian menuju ke arah demikian itu, bagi saya bukan perkara gampang, dan juga bukan soal yang menyangkut berteater tersebab adanya undangan dari pihak lain, lalu beramai-ramai main teater. Paling tidak, ada kesesungguhan di dalamnya. Ada proses dan pencarian bentuk ungkap panggung yang inovatif. Kerja dan aktivitas teater seperti ini memang tidak pernah diributkan orang. Komunitas seni Hitam-Putih mungkin satu dari sekian banyak komunitas teater yang bergerak dengan partisipasi dan ketegaran dalam mencari dan terus mengasah kamampuan serta sensitivitas pikiran dan perasaan. Mereka berjalan dalam identitas dan militansinya.

Maka, apa yang pernah ditulis Peter Brook, pada batas demikian menjadi sangat benar: Teater harus merefleksikan keterkaitan yang khas dari tanda kehidupan. Perbedaan yang memisahkan antara kebenaran dan realitas bukanlah pada tingkat perbedaannya, namun pada persamaannya yang dapat dibaca melalui kumpulan pemikiran yang berhati-hati.

“Ditunggu Dogot” membuka ruang interpretasi yang luas dan kontekstual, namun secara historis, ia menjadi ahistoris. Keterkaitan dan relevansinya dengan kehidupan sosial diimplementasikan dalam aktualisasi tema, dan content. Dialog dan konflik yang dikedepankan memungkinkan untuk mencapai penyatuan artikulasi dan determinasi logika dalam ranah ruang dan waktu. Namun, karena studi yang kurang mendalam tentang absurdisme, eksistensialisme, dan psikologi Freud, maka pertunjukan “Ditunggu Dogot” kurang berhasil pada tingkat eksplorasi kejiwaan. Tokoh-tokoh bermain masih dalam subjektivitas-ego, kelonggaran karakter terbaca dengan jelas, dan detil-detil karakter masing-masing belum tergarap. Tapi, satu hal yang sangat terjaga adalah tempo permainan yang stabil, dan pencapaian alur cerita yang tepat. Demikianlah “Ditunggu Dogot”. Ia akan mengemasi dirinya sendiri dengan tawaran-tawaran partisipatif dan imajinatifnya kepada publik, dan sesungguhnya teater bukan sekadar aktor yang menjadi properti yang dilukis sutradara di atas pentas, aktor adalah “pencipta” di atas panggung. ***  

Tinggalkan komentar

Filed under KARYA-KARYA